Bulan ini bisa dibilang bulan yang agak padat, berhubung ada beberapa target yang harus diselesaikan termasuk beberapa antrian isolator yang perlu di "bersihkan" hehe.... Kebetulan sabtu dan minggu kemarin aku tidak dapat tugas jalan-jalan, jadi tidak ada salahnya sedikit santai dengan menikmati sejumlah film. Berhubung database film dari kawan udah abis, saya tancap gas ke rental langganan. Hari pertama aku nyewa 4 film dan dihari kedua aku nyewa 4 lagi, sukses dah aku babat 8 film 2 hari. Pas postingan ini aku tulis aku baru aja selesai nonton film terakhir judulnya Nothing But The Truth. Lumayanlah, buat nyegarkan kepala berhubung malam selasa aku harus jalan-jalan lagi.
Diantara kedelapan film yang aku sewa, ada 2 film indonesia yang menarik yaitu Kentut dan Jakarta Maghrib. Film yang pertama aku sewa karena ada aktor Deddy Mizwar dan yang kedua karena rekomendasi kawan. Okeh, untuk film pertama seperti yang sudah aku bayangkan filmnya bakal menghadirkan komedi dan juga sindiran-sindiran buat realita negeri ini. O ya, satu lagi iklan hehehe... Sori bang Jek, dari beberapa film yang saya nonton dimana abang main disitu iklannya kadang-kadang berlebihan seperti KCB 1, Alangkah Lucunya Negeri Ini dan yang terakhir Kentut.
Aku kembali lagi ke filmnya. Dalam imajinasiku karya Deddy Mizwar adalah karya yang sederhana dan yang paling aku suka itu sebenarnya film seri lorong waktu sama kiamat sudah dekat versi film lepas. Untuk Para Pencari Tuhan kelihatannya juga sodap bang, cuma berhubung sahur di ujung barat sumatera agak lama jadi cuma kebagian akhirnya hehe.... Kesan sederhana dalam artian bahwa tema yang diangkat tidak terlalu berat namun bisa menyentil sisi kehidupan manusia masih tetap aku rasain setidaknya sampai Alangkah Lucunya Negeri Ini. Namun, untuk film terakhir aku merasa agak kurang. Secara ide menarik bahwa kentut yang mungkin dianggap hal sepele bisa membuyarkan rencana calon pemimpin sekalipun. Mungkin sebuah kiasan bahwa rencana manusia-manusia pintar yang berpengalaman sekalipun bisa bablas karena sesuatu yang sangat sepele.
Namun kesan ini menjadi kurang bisa aku tangkap dengan begitu baik lewat alur film ini, entah karena dari sisi pengemasan atau aku yang kurang berkonsentrasi hehe.. Setidaknya itulah yang dirasakan ketika menikmati film ini sampai habis.
Sekarang masuk ke film kedua, Jakarta Maghrib. Aku ngikutin bahas ini film selain karena rekomendasi kawan, film ini juga terkadang nyindir awak hahahaha... Ini film memang dikemas dalam 5 cerita yang terpisah. Yang aku tangkap film ini menghadirkan beberapa bentuk kehidupan kota Jakarta di sebuah waktu, dalam hal ini ketika menjelang Maghrib. Menarik, seperti cerita adzan yang menggambarkan salah satu fenomena religi pada sebuah kota besar. Lalu cerita tentang hubungan bermasyarakat di sebuah komplek yang ternyata super cuek. Kemudian sentilan bahwa kebanyakan kita cuma berani menyampaikan ketidaksukaan terhadap sesuatu tapi sayang jarang untuk berani bersikap. Atau mungkin cerita anak muda yang salah kaprah menyikapi hal ghaib dan sentilan-sentilan lain. Memang mungkin tidak terlalu tajam, tapi juga tidak terlalu tumpul. Namun buat aku pas.
Cuma sayang, endingnya yang agak kurang puas. Terutama nasib sang preman yang Azan. Apa kena amukan massa atau kemudian massa harus sadar jika preman hanya melanjutkan hobi si Babe untuk ngingatin orang-orang sudah saatnya "ngobrol" sama Sang Khalik.
Diantara kedelapan film yang aku sewa, ada 2 film indonesia yang menarik yaitu Kentut dan Jakarta Maghrib. Film yang pertama aku sewa karena ada aktor Deddy Mizwar dan yang kedua karena rekomendasi kawan. Okeh, untuk film pertama seperti yang sudah aku bayangkan filmnya bakal menghadirkan komedi dan juga sindiran-sindiran buat realita negeri ini. O ya, satu lagi iklan hehehe... Sori bang Jek, dari beberapa film yang saya nonton dimana abang main disitu iklannya kadang-kadang berlebihan seperti KCB 1, Alangkah Lucunya Negeri Ini dan yang terakhir Kentut.
Aku kembali lagi ke filmnya. Dalam imajinasiku karya Deddy Mizwar adalah karya yang sederhana dan yang paling aku suka itu sebenarnya film seri lorong waktu sama kiamat sudah dekat versi film lepas. Untuk Para Pencari Tuhan kelihatannya juga sodap bang, cuma berhubung sahur di ujung barat sumatera agak lama jadi cuma kebagian akhirnya hehe.... Kesan sederhana dalam artian bahwa tema yang diangkat tidak terlalu berat namun bisa menyentil sisi kehidupan manusia masih tetap aku rasain setidaknya sampai Alangkah Lucunya Negeri Ini. Namun, untuk film terakhir aku merasa agak kurang. Secara ide menarik bahwa kentut yang mungkin dianggap hal sepele bisa membuyarkan rencana calon pemimpin sekalipun. Mungkin sebuah kiasan bahwa rencana manusia-manusia pintar yang berpengalaman sekalipun bisa bablas karena sesuatu yang sangat sepele.
Namun kesan ini menjadi kurang bisa aku tangkap dengan begitu baik lewat alur film ini, entah karena dari sisi pengemasan atau aku yang kurang berkonsentrasi hehe.. Setidaknya itulah yang dirasakan ketika menikmati film ini sampai habis.
Sekarang masuk ke film kedua, Jakarta Maghrib. Aku ngikutin bahas ini film selain karena rekomendasi kawan, film ini juga terkadang nyindir awak hahahaha... Ini film memang dikemas dalam 5 cerita yang terpisah. Yang aku tangkap film ini menghadirkan beberapa bentuk kehidupan kota Jakarta di sebuah waktu, dalam hal ini ketika menjelang Maghrib. Menarik, seperti cerita adzan yang menggambarkan salah satu fenomena religi pada sebuah kota besar. Lalu cerita tentang hubungan bermasyarakat di sebuah komplek yang ternyata super cuek. Kemudian sentilan bahwa kebanyakan kita cuma berani menyampaikan ketidaksukaan terhadap sesuatu tapi sayang jarang untuk berani bersikap. Atau mungkin cerita anak muda yang salah kaprah menyikapi hal ghaib dan sentilan-sentilan lain. Memang mungkin tidak terlalu tajam, tapi juga tidak terlalu tumpul. Namun buat aku pas.
Cuma sayang, endingnya yang agak kurang puas. Terutama nasib sang preman yang Azan. Apa kena amukan massa atau kemudian massa harus sadar jika preman hanya melanjutkan hobi si Babe untuk ngingatin orang-orang sudah saatnya "ngobrol" sama Sang Khalik.
Powered by ScribeFire.
0 komentar:
Post a Comment