Saturday, June 11, 2011

#indonesiajujur: Mau Jujur Kok Bingung?

Suatu ketika Rasulullah saw melihat seorang laki-laki berlari dari kejaran sekelompok orang jahat yang hendak menganiaya dirinya. Karena suatu hal laki-laki tersebut berhasil menghilang dari pandang orang yang mengejarnya. Para pengejar yang telah mulai kehilangan jejak kemudian bertanya kepada orang di sekitar apakah ada yang melihat laki-laki tersebut dan jawabannya adala negatif. Rasul yang melihat kejadian tersebut kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ketika para pengejar menuju Rasul dan bertanya tentang laki-laki itu, Rasul pun menjawab "SEMENJAK saya BERDIRI disini TIDAK ada satu orang laki-lakipun yang melintasi jalan ini".

Kelihatannya cerita itu menyentak awak untuk menyangkal kalimat "BOHONG untuk KEBAIKAN itu TIDAK APA-APA". Padahal yang ingin diselamatkan adalah nyawa seorang anak manusia yang tidak bersalah dari sekerumunan orang jahat yang ingin menyakitinya. Padahal apa lah artinya menipu orang jahat. Namun, itu lah konsekuensi dari mempertahankan sebuah nilai kejujuran. Bahwa akhlak baik tidak harus selamanya diberikan kepada orang baik.

Bicara tentang nilai baik seperti kejujuran menjadi sesuatu hal yang agak ribet untuk saat ini. Berhubung manusia tidak jarang terjebak dengan suatu kondisi yang membuatnya harus menyembunyikan sesuatu. Hasilnya tidak jarang pula manusia kekurangan kemampuan untuk merepresentikan kerahasiaanya tetap dalam konteks nilai kejujuran. Potong kompas (baca: berbohong) keliatannya lebih mudah dengan dalih demi kebaikan bersama. Lalu, apa parameter untuk menyatakan bahwa tindakan potong kompas itu adalah benar. Menurut kacamata penyampai boleh jadi, tapi kacamata lain bagaimana? Lalu bagaimana dengan dampaknya? Bagaimana dengan konsistensi mempertahankan nilai kejujuran yang selalu disampaikan orang tua kepada anaknya?

Aku jadi teringat dulu pas nonton salah satu acara TV, seorang seniman (aku lupa namanya) pernah ngomong begini "Dulu sewaktu kecil seorang anak diberitahu lebih baik mencegah dari pada mengobati. Namun, ketika dewasa orang lebih senang mengobati dari pada mencegah". Apapun cerita sebuah nilai yang baik harus tetap dipertahankan. Tantangan memang selalu saja ada kepada siapapun yang mencoba untuk mempertahankan hal itu. 

Bicara mengenai gerakan #indonesiajujur keliatannya merupakan sebuah gerakan yang perlu didukung. Mungkin kasus Ny. Siami dapat menjadi triger tertentu bahwa rasa kejujuran harus tetap dipertahankan, dan perasaan bersalah harus tetap dibudayakan. Agar semua orang tidak merasa begitu gampangnya membenarkan kesalahan hanya karena terjebak dengan kondisi yang tidak menyenangkan buat dirinya atau buat orang-orang yang disayanginya.

Ini bukan hanya pertanyaan buat pemerintah atau sekelompok orang yang disebut besar oleh wong cilik. Ini juga pertanyaan buat kita bersama sebagai seorang manusia dan sebagai sebuah bangsa. Bahwa dimana-mana itu nilai baik tidak selamanya dimulai dari seorang pemimpin, tapi itu dimulai dari diri setiap insan. Lagipula bukankah manusia adalah khalifah (baca: pemimpin) dan setiap pemimpin akan ditanyakan kepemimpinannya baik di dunia maupun di akhirat oleh Sang Penggengam Kehidupan.

0 komentar:

Disqus for Saleum Syedara