Pas huruf pertama aku ketik jam nunjukin jam 4 pagi lewat 29 menit waktu komputer awak. Ini cuma sebuah tulisan orang yang sedang berada pada konsep simalakama. Mo tidur nanggung subuh, ga tidur otak udah mulai rada kusut buat mikir.
Sebenarnya ga da niat bergadang malam ini, cm apa boleh buat tugas menghadap dan deadline semakin dekat. Kadang aku jadi ingat dulu pas masa2 kuliah pernah ga tidur 1 hari lebih gara-gara ngerjain laporan 100 lembar tulis tangan. Kemudian pas pulang kuliah sorenya aku cuma bisa tekapar ampe pagi. Untungnya besoknya itu ga ada acara di kampus.
Kadang aku jadi teringat kata Bapak ku dulu pas aku masih kecil "pekerjaan kecil jika ditunda terus akan menjadi pekerjaan besar". That's it, I'm stuck with that now.
Kalo mau diingat2 "utang"ku ma si bos masih banyak dan kalo ngeliat kondisi "utang" dan target "pengembalian" sangat amat sempit sekali. Belum lagi ditambah "utang"ku dengan diriku sendiri.
Frustasi..??? Hampir...
Jika aku udah tersesat dalam kondisi ini, aku jadi ingat lagi tentang renunganku mengenai prioritas dan komitmen. Yap, dua kata yang sampai saat ini belum bisa aku telaah dengan sangat amat baik dalam sikap sehari-hari. Membuat sebuah list akan prioritas itu mudah begitupun dengan menancapkan akan kata komitmen.
Namun, sayangnya bumi ini tidak diciptakan buat awak sendiri. Aku hidup dalam suatu komunitas yang saling membutuhkan. Ketika proses untuk menerapkan komitmen akan sebuah prioritas itu akan sedikit lebih sulit karena hidup tidak pernah bisa ditebak. Apa yang akan terjadi tahun depan, bulan depan, besok atau bahkan satu detik ke depan. Hidup tidak mungkin selalu seirama dengan mimpiku atau khayalanku. Memperkirakan tingkat probabilitas sebuah kondisi di depan juga sulit, karena variabelnya terlalu kompleks. Seperti kata orang bijak "sehebat-hebat rencana yang dibuat, tetap saja keputusan ada di tangan Tuhan"
Kelihatannya aku perlu memahami makna fleksibelitas dalam menancapakan komitmen untuk merealisasikan prioritasku. Aku harus mampu untuk mengendalikan kondisi yang tak terduga di depan. Menyusun rencana atau hadapi saja.
Huff... capek awak mikirnya berhubung otakku udah ngadat dari tadi.
Btw, kemarin ditengah frustasi yang hampir klimaks dan mimpi pingin punya PC hing end buat maen game. Aku iseng beli sebuah majalah yang dulu menjadi salah satu majalah favorit. Sebuah majalah yang berhubungan dengan dunia IT. Hasilnya aku terkejut, terkejut bahwa aku sudah terlalu jauh lari dari dunia yang dulunya menjadi mimpi buat ku. Mimpi bisa berkontribusi dalam dunia IT. Sebuah mimpi bisa membangun perusahaan yang bergerak dalam bidang network service provider. Memanajem jaringan, bermain dalam keamaanan komunikasi data dan memberikan kecepatan akses cepat dan murah buat negeri ini (berhubung pas kenalan dengan internet lewat jadi dialup) adalah salah satu mimpi yang belum bisa di wujudkan.
Untuk mimpi itu, awak ikut kursus sertifikasi, membeli kompi bekas untuk jadikan router dengan OS freeBSD (berhubung ada kenalan bilang kalo pingin belajar jaringan mulai dari freeBSD), dan tentunya blog ini. Serangkaian usaha yang kalo dilihat sekarang dengan kerjaanku kagak ada hubungan. Saat ini hari awak dipenuhi dengan wiring kontrol relay, koordinasi OCR/GFR, perhitungan hubung singkat 3 fasa dan hal-hal lain berbau proteksi sistem tenaga. Sedangkan aku dulu adalah mahasiswa elektro dengan sub telekomunikasi.
Hmm... Tidak ada usaha yang sia-sia adalah kalimat yang cukup memberikan angin segar. Apalagi kalo ingat kata-katanya CEO-nya Apple yang pernah ku post di blog ini dulu yang kira-kira bunyinya "Kita harus percaya titik-titik itu akan terhubung di masa depan".
Okehlah.. Azan subuh udah berkumandang dari tadi, saatnya melapor ke Sang Pencipta Penggengam Segala Hal di langit dan di bumi.
0 komentar:
Post a Comment