Sunday, April 3, 2011

Ngopi; Dulu dan Sekarang

Saleum syedara, peu haba rakan bandum? (Salam saudara, apa kabar rakan semua?)
Saat ini jam 01.09 waktu PC di malam minggu dan aku baru saja balik dari salah satu warung kopi di kota kelahiran, Banda Aceh. Menikmati secangkir "Sanger" dingin yang setau aku cuma ada di bumi Aceh. Kawan aku pernah nanya tentang minuman itu, dan aku jawab "Sanger" itu "kopi susunya"nya Aceh atau kalo bahasa kerennya semacam "Caffe Latte"nya Aceh. Terlepas dari nama, kawanku yang dari pulau seberang mengakui kalau yang namanya SANGER itu UUEENAAKKK TEUNAN...


Kalo dari gambar di atas merupakan salah satu penampakan dari Sanger (tapi yang mode Panas). Disebelah kirinya keliatan juga penampakan salah satu khas kue Aceh, yaitu Adee alias Bengkang Ambon. Mungkin bagi rakan2 yang belum pernah Aceh dan ada keinginan ke Aceh, ini bisa menjadi salah satu pilihan wisata kuliner.

Sebelum ini aku pernah juga membuat postingan tentang kopi, tapi ini bukan mengulang. Cuma tadi tiba-tiba jadi pingin menulis saja tentang gaya ngopi dulu dan sekarang. Dulu (kalo gak salah ingat) orang pergi ke warung ngopi selain nikmatin secangkir kopi, mereka ngobrol. Cerita panjang lebar dan tanpa disadari cukup untuk ngabisin secangkir kopi (cangkirnya seukuran gambar diatas) berjam-jam. Minum sedikit, terkadang narik sebatang rokok (kalau perokok) dan bicara sebanyak-banyaknya (no offense, tapi itulah kesan yang cukup kental).

Lalu bagaimana dengan sekarang? Gak beda jauh, mirip cuma dalam konteks yang sedikit berbeda. Mungkin lebih modern (kalau aku ga salah mengartikan kata modern). Datang ke warung, pesan kopi, narik rokok (kalau perokok), ngobrol dan buka laptop. Nah, itu dia LAPTOP.

Laptop telah memberi warna baru, khususnya di kalangan anak muda Aceh, untuk nongkrong di warung kopi. Bentuk warung kopi yang terbuka di Aceh, juga mulai menyediakan fasilitas WiFi garatis buat pelanggan. Buat aku pribadi, sebuah keuntungan tersendiri terkadang. Berhubung bisa berselancar ria dengan harga secangkir kopi hehe...

Awal muasal gaya ngopi ini kalo gak salah setelah tsunami. Setelah para NGO yang anggotanya orang asing mengerjakan tugas di warung kopi menggunakan laptop. Gaya kerja orang luar negeri ini kemudian merabah ke kalangan anak muda Aceh dan kemudian membuat para pemilik warung kopi menyediakan fasilitas WiFi gratis buat pelanggannya. Cuma bedanya fasilitas ini kebanyakan digunakan buat ber-facebook-an ria atau buat senang-senang. 

Perubahan inipun tak cukup keliatannya, karena tempat terakhir ngopi yang awak kunjungi juga menyediakan fasilitas sound yang nendang termasuk jg fasilitas buat live music. Baru kali itu, awak nikmatin Sanger dingin dengan musik yang bikin kepala angguk-angguk. Image sebuah warung kopi yang identik dengan kaum adam berubah menjadi tempat mangkal cowok/cewek dari segala umur.

Walaupun begitu masih tetap ada saja warung kopi yang klasik, yang memang lebih mengedepankan cita rasa dari pada sebuah fasilitas internet dan dekorasi yang serba minimalis. Umumnya warung kopi ini hanya menjadikan wifi sebagai pelengkap saja, ada tidakpun hana masalah (tidak ada masalah). Karena toh para pelanggannya datang, memang benar-benar datang untuk menikmati secangkir kopi khas Aceh yang nikmat sambil berbagi cerita dengan kerabat.

5 komentar:

muhfiasbin said...

ayok gan.. kapan kita ngopi di Aceh? aku mau la :D... oya tanggal 23 April ini libur gan. Ke tempat mu boleh?

Firdaus said...

Boleh2..
Itu pas lagi aku ga ada HAR
Awak tunggu,,,

Anonymous said...

haahahah....yang bilang sanger ueeeenak tenan kawan yang mana bang pir...uhui......wkwkwkwk

fixps said...

Hmmm... seorang kawan dari pulau seberang yang pas nyoba pertama langsung ketagihan.

Nur.lychee said...

ya enak sekali....selama liburan disana hampir setiap malam mencoba sanger dr satu warung kopi ke warung kopi yg lain....

Disqus for Saleum Syedara