Wednesday, May 19, 2010

Subnetting dan VLSM (bagian 2 - Habis)

Postingan sebelumnya membahas tentang ide dasar dari subnetting. Di postingan kedua ini akan kita bahas sodaranya yaitu VLSM alias Variable Length Subnet Mask. Konsep VLSM sama dengan konsep subnetting hanya saja pada VLSM kita bisa menciptakan subnetwork di dalam subnetwork. 

Dalam postingan ini juga aku mencoba share mengenai CIDR atau Classless Inter-Domain Routing. Ini pada dasarnya merupakan metode ISP untuk mengalokasikan sejumlah alamat IP ke para pelanggannya. Jika pernah lihat alamat IP seperti ini  192.168.10.43/24 tidak perlu bingung. Nilai setelah simbol garis miring ("/") adalah nilai CIDR yang menunjukkan subnet mask dari IP tersebut. Nilai 24 berarti ada 24 buah bit yang bernilai 1 dalam subnet mask tersebut. Hal ini sama dengan 11111111.11111111.11111111.00000000 atau secara desimal dapat ditulis dengan 255.255.255.0. Ada referensi yang menyatakan konsep CIDR ini telah membuat subnetting menjadi supernetting.

Coba kembali mengingat atau melihat lagi ke postingan bagian 1, disitu ada 2 contoh kasus subnetting. Kita ambil saja contoh kasus pertama dimana terdapat 16 buah subnetwork dengan dukungan terhadap sekitar 4094 alamat IP yang valid. Ini merupakan jumlah yang sangat besar tentunya, tapi tidak ada masalah kalau sesuai dengan kebutuhan.

Lalu, sebenarnya apa yang sedang direncanakan? Katakanlah 10 subnetwork  direncanakan untuk 10 buah kantor wilayah dari sebuah perusahaan besar berskala internasional. Kemudian 1 kantor wilayah itu juga membawahi 10 kantor cabang. Jika kemudian masing-masing kantor memiliki beberapa divisi dan memiliki aturan bahwa network masing-masing divisi harus berbeda, maka ini menjadi masalah yang sedikit rumit. 

Andaikata dari awal dirancang subnetwork yang mampu menampung komputer di masing-masing divisi juga akan timbul masalah. Masalahnya adalah jumlah komputer dari setiap divisi juga berbeda tergantung wilayah dan cabang mana kantor tersebut berada. Andaikata dibuat rancangan dengan mengacu terhadap divisi yang paling besar membutuhkan komputer, maka akan terjadi pemborosan alamat IP di divisi yang memiliki komputer paling sedikit. Perlu diingat bahwa tidak boleh sembarangan menambah atau mengurangi alamat IP yang telah masuk ke dalam blok subnetwork tertentu.

Disinilah letak kehandalan teknologi VLSM. Dengan VLSM seorang admin dikantor pusat cukup menghibahkan 1 subnetwork dengan alamat IP valid yang cukup besar. Selanjutnya admin di kantor wilayah atau kantor cabang melakukan teknik VLSM untuk menyesuaikan dengan kebutuhan di kantornya masing-masing.

Okeh, sekarang misalkan saja salah satu kantor wilayah, sebut saja wilayah 1, memiliki 5 divisi, yaitu A, B, C, D, dan E. Kebutuhan untuk kelima divisi itu adalah :
  1. Divisi A membutuhkan 25 alamat IP
  2. Divisi B membutuhkan 35 alamat IP
  3. Divisi C membutuhkan 50 alamat IP
  4. Divisi D membutuhkan 10 alamat IP
  5. Divisi E membutuhkan 10 alamat IP
Maka, kantor wilayah 1 membutuhkan 130 buah alamat IP yang valid. Sebelum dimulai, aku wajib mengingatkan kembali solusi kasus ini bukanlah hal yang mutlak. Rancangan adalah perkara yang relatif dengan kondisi dan situasi. Yang penting Syedara bisa membayangkan logika dari teknik VLSM ini. 

Misalkan saja kantor wilayah 1 memperoleh subnetwork pertama yaitu 172.17.0.0. Maka yang pertama dilakukan adalah kita harus mencoba membayangkan dalam pikiran bahwa kebutuhan alamat IP dari tiap divisi merupakan angka-angka hasil 2^n.

Misalkan saja untuk divisi A membutuhkan 25 alamat IP. Tentu agak sedikit bingung mencari pengganti n sehingga memenuhi persamaan 2^n = 25. Jadi, harus ditemukan sebuah angka untuk mengganti n yang memenuhi persamaan 2^n>=25. Sehingga didapat n = 5, maka 2^5=32.

Maka dengan cara yang sama akan diperoleh :
  1. Divisi A, n = 5 --> 32
  2. Divisi B, n = 6 --> 64
  3. Divisi C, n = 6 --> 64
  4. Divisi D, n = 4 --> 16
  5. Divisi E, n = 4 --> 16
Nilai-nilai ini merupakan nilai yang akan memudahkan kita membayangkan blok subnetwork yang akan tercipta. Kebetulan hasil diperoleh semuanya lebih besar dari kebutuhan masing-masing divisi. Andaikata sama dengan kebutuhan alamat IP, maka nilai n harus ditambah 1. Kenapa? Sedikit ide dari dalam kepala aku dan karena kita sudah mengenal nilai CIDR maka permainan pemecahan ini akan kita coba sederhanakan.

Setipa pemecahan sebuah network, maka nilai jarak antar subnetwork-nya akan selalu berada dalam 2^n. Misalkan saja kita ingin memcahkan 192.168.1.0/24. Maka alternatif jarak subnetwork yang mungkin adalah 128, 64, 32, 16, 8, dan 4. Nilai 2 tidak mungkin karena, setiap subnetwork harus meninggalkan 2 alamat IP untuk alamat network dan alamat broadcast. 

Kemudian admin kantor wilayah 1 mengetahui informasi bahwa jumlah kebutuhan maksimum alamat IP untuk masing-masing kantor cabang di wilayah 1 adalah 115 komputer.

Dalam kasus ini subnetwork 172.17.0.0/20 menjadi 172.17.0.0/24, sehingga menghasilkan 16 buah sub subnetwork baru, yaitu :

  1. 172.17.0.0/24
  2. 172.17.1.0/24
  3. 172.17.2.0/24
  4. dst...
Admin kantor wilayah 1 kemudian mengambil sub subnetwork yang pertama untuk kantor wilayah dan kemudian membagi kedalam 4 subsub subnetwork baru, yaitu :
  1. 172.17.0.0/26
  2. 172.17.0.64/26
  3. 172.17.0.128/26
  4. 172.17.0.192/26
Kemudian admin kantor wilayah 1 menghibahkan subsub subnetwork 1 dan 2 untuk divisi B dan C. Sedangkan untuk divisi A, D dan E admin hanya cukup memecah kembali subsub subnetwork yang ketiga menjadi
  1. 172.17.0.128/27
  2. 172.17.0.160/27
dan menyerahkan blok pertamanya ke divisi A. Sedangkan untuk divisi D dan E admin memecah kembali blok kedua menjadi 
  1. 172.17.0.160/28
  2. 172.17.0.176/28
dan menyerahkannya masing-masing ke divisi D dan E. Ingat bahwa masih ada sebuah subsub subnetwork terakhir yaitu 172.17.0.192/26 yang belum digunakan. Ini bisa diserahkan ke kantor cabang, bisa pula dijadikan cadangan kantor wilayah andaikata ada penambahan perangkat ke depan.

Sedangkan untuk kantor cabang admin boleh jadi tidak langsung menyerahkan sebuah sub subnetwork seperti 172.17.1.0/24 secara mentah. Hal ini dikarenakan adanya informasi kebutuhan maksimum komputer di tiap kantor cabang. Sehingga admin bisa menjadikan sebuah sub subnetwork untuk 2 kantor cabang dengan memecahnya menjadi :
  1. 172.17.1.0/25
  2. 172.17.1.128/25
Dimana satu blok mampu mendukung 126 alamat IP valid dan berarti melebihi jumlah maksimum yang dibutuhkan. Sehingga dengan begitu hanya 6 buah sub subnetwork yang digunakan untuk mendukung kantor wilayah 1 berikut dengan 10 kantor cabangnya dan menyisakan 10 buah sub subnetwork.

Kalau begini boleh jadi admin wilayah 1 bisa menghibahkan lagi 10 sub subnetwork-nya ke wilayah lain. Tapi bisa juga disimpan untuk kebutuhan kedepan. Semuanya tergantung kepada kondisi dan situasi karena ini adalah sebuah rancangan. Semakin tidak boros seharusnya semakin bagus, tetapi kalau benar-benar pas juga harus was-was kalau ada rencana ekspansi di masa yang akan datang.

0 komentar:

Disqus for Saleum Syedara