Ini pengalaman pribadi aku tentang linux, dan hal ini dimulai pas mencoba instal linux di laptop untuk pertama kalinya. Dulu pas kuliah, cuma baca-baca aja bukunya. Mencoba berimajinasi, seolah paham. Tapi apa daya, otakku tak seperti Habibie yang encer bagai aer... Kemudian mencoba berimajinasi dengan virtual box. Tetap saja masih ada perasaan kurang puas.
Akhirnya setelah memantapkan hati dan otak, aku memcahkan HD laptopku yang menjadi Dual Boot. Satu buat si Vista dan satu lagi buat si Ubuntu. Awalnya rencana mau mengubah total ke linux, berhubung aku udah mulai familiar dengan beberapa aplikasi free yang juga jalan di linux. Katakan saja seperti Open Office, Pidgin, Firefox (walaupun sekarang beralih ke Chrome hehe...).
Aplikasi umum memang, karena aku bukan seorang pekerja di bidang Multimedia. Cuma seorang anak manusia yang cuma bisa berolah raga jari hehe... Jadi, klo bicara software multimedia dibidang grafis, sound, flash dan segala macam itu don't need the powerfull ones, just alakadar... dan linux menyediakan itu. Bahkan terkadang di tangan orang tertentu malah menjadi hal yang lebih dari alakadar.
Kenapa aku memilih Ubuntu? Itu punya kisah sedikit. Awalnya aku mencoba "nanya-nanya" ma mbah Google kira2 distro mana yang cocok buat laptop awak yang berjenis XPS M1330.
Tiba-tiba ada sebuah blog yang menulis pengalaman pribadinya, dengan jenis laptop yang sama, menggunakan Linux Mint dan hasilnya mantap.
Tiba-tiba ada sebuah blog yang menulis pengalaman pribadinya, dengan jenis laptop yang sama, menggunakan Linux Mint dan hasilnya mantap.
Wow... distro apa lagi itu? Maklum waktu itu telingaku cuma familiar distro linux seperti Ubuntu, Fedora, Mandriva dkk yang udah lemayan besar namanya. Coba searching ternyata Linux Mint termasuk turunan Ubuntu. Screenshot-nya juga menarik dan silahkan langsung ke situsnya di sini kalau ingin tau lebih banyak.
Singkatnya aku langsung mendowload Limin (Linux Mint) dengan kode Helena. Yang edannya adalaha kuota flash udah habis dan karena hal itu pula aku donlot yang versi main-nya berhubung paling kecil. Walaupun kecil dibutuhkan waktu sekitar 3 hari untuk mendonlot. Sebenarnya bisa lebih cepat, cuma kadang aku matikan. Laptop dan modem terkadang juga butuh istirahat, kasian kalo nyedot terus hehe....
Setelah siap mendonlot dan kemudian menginstal, aku menyadari sebuah kesalahan akibat lupa baca forumnya. Memang Limin lancar-lancar saja pas aku instal dan semua terdeteksi termasuk vga, walaupun harus di donlot (masalah third party) supaya berfungsi optimal. Tapi satu hal yang aku lewatkan bahwa Linux Mint 8 atau Helena versi main ini kurang begitu cocok bersanding dengan Modem Huawei E220.
Setelah siap mendonlot dan kemudian menginstal, aku menyadari sebuah kesalahan akibat lupa baca forumnya. Memang Limin lancar-lancar saja pas aku instal dan semua terdeteksi termasuk vga, walaupun harus di donlot (masalah third party) supaya berfungsi optimal. Tapi satu hal yang aku lewatkan bahwa Linux Mint 8 atau Helena versi main ini kurang begitu cocok bersanding dengan Modem Huawei E220.
Hal ini baru aku tau pas baca forumnya (koneksi lewat si Vista tentunya). Dari forum Limin ini, kemudian aku baru tau ternyata banyak member yang "bermasalah" ketika menyandingkan Helena-main dengan modem Huawei E220. Tetapi modem ini cocok ketika disandingkan dengan Helena-64/KDE. Dasar orang malas.. aku bukannya mencoba "nanya-nanya" lebih lanjut sama forum atau sama si mbah Google. Malah down sendiri liat kata-kata di forum itu. "Salah Donlot" adalah kalimat pertama yang terlintas di dalam kepala.
Akhirnya aku mencoba melirik kembali ke Ubuntu. Ada dua alasan kenapa aku kembali ke Ubuntu. Pertama, karena ada sebuah file image Ubuntu 8.04 di laptop dan yang kedua aku punya kawan bernama Moehfi yang merupakan penikmat Ubuntu. Jadi, kalau aku mentok betol sama Luntu (Linux Ubuntu) ada tempat terdekat untuk bertanya hehe...
Tapi kemudian aku menemukan salah satu jawaban dari si mbah, ketika tanya-tanya tentang Luntu dan modem yang akan bersanding. Jawaban yang membuat aku menambah list alasan aku, yaitu bahwa Ubuntu 9.10 telah mendukung Modem Huawei E220. Untuk si Ubuntu ini aku ga donlot, karena aku tau betol kawan aku tadi pasti punya. Jadi, aku coba hubungi dia dan seperti dugaan, Ubuntu 9.10 is ready.
Ada dua cara sebenarnya untuk mengkoneksikan huawei dengan Luntu 9.10, yang pertama model CLI menggunakan wvdial dan satu lagi model GUI. Karena awak ini pemalas hehehe... jadi milih yang GUI (ngapain susah2 kalo ada yang gampang, betul?) Caranya gampang, bisa langsung saja liat ke jawaban tadi.
Cuma terkadang, hasilnya rada-rada aneh. Anehnya adalah bahwa ketika koneksi dilakukan, dan muncul simbol bar yang menandakan telah terkoneksi, malah alamat IP DNS-nya ga muncul. Kalo ditanya lebih sering mana, jawabannya lebih sering ga dapat DNS. Memang peristiwa ini munculnya agak belakangan, ga tau jg kenapa? Mungkin ada jari aku yang silap pas maen sama Luntu. Yang pasti akhirnya aku mutusin untuk melakukan solusi CLI, yaitu dengan mendonlot wvdial.
Awalnya aku mau mencoba donlot paketnya dari Vista dan instal secara manual. Tapi, syukur betol pas niat itu mucul koneksi Ubuntu bagus. So, buka terminal dan ketik sudo apt-get install wvdial. Muncul permintaan password, isi password root, diikuti sederet "mantra-mantra" dan kemudian berakhir dengan sukses. Selanjutnya tinggal ikuti saja langkah di jawaban tadi. Berhasil dan dengan predikat memuaskan karena seingat aku blum pernah ada koneksi yang ga dapat DNS seperti pada cara pertama tadi.
Namun, kembali kegilaan aku muncul. Kegilaan aku muncul ketika aku berniat melakukan instal ulang Ubuntu. Kalau ada Syedara yang bingung, ketawa atau apalah silahkan saja, aku maklum. Mungkin dalam keluarga Wins lemayan wajar ditemukan, biasa masalahnya karena virus yang overload. Tapi Linux,,?!?!?! What the heck, I can do that...?!?!?!
Tenang, ini bukan karena virus, tapi karena kegilaan aku mengeluarkan sebuah partisi logical yang ada di partisi extended menjadi sebuah partisi primary. Ketika pertama kali aku beli ini laptop. Default-nya membuat 3 buah partisi (meski yang satu ga muncul di explorer), satu partisi tempat seluruh aplikasi, dokumen dan segala macam yang menjalankan sistem. Partisi yang kedua berisi file-file yang dibutuhkan untuk me-recovery. Partisi terakhir, yang ga muncul di menu explorer Vista, menurut hasil di GParted partisi itu memiliki label DellUtility.
Melalui sebuah disk management aku membelah partisi pertama menjadi dua, maka lahirlah partisi baru yang berjenis extended partition dan diisi oleh sebuah logical partition. Awalnya aku menginstal linux dengan memanfaatkan ruang kosong di partisi logical tadi. Tidak ada masalah karena linux tidak ada masalah dengan logical atau primary. Tapi, dasar akunya yang sok2an adil dalam memperlakukan 2 OS di laptop. Dua-duanya harus mendapat tempat di primary biar adil hehe...
Aku mulai mencoba mengolah GParted yang aku instal dari Ubuntu Software Center. Hasilnya tidak bisa. Kemudian aku mulai "nanya-nanya" ke si mbah, ga tau ntah kenapa bisa jadi begitu semangat, apa karena penyakit malas aku lagi molor. Ah... udah lah ga da waktu menganalisa hal yang ga penting apalagi menjelaskan dalam posting ini.
Aku jadi mulai agak rajin mencari dan belajar masalah partisi. Ada sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa sebuah HDD maksimal memiliki 4 partisi utama, yaitu Primary, Extended, Logical dan Swap. Jika ingin punya partisi banyak, maka yang perlu dibuat adalah jadikan 2 partisi sebagai primary, sisanya tinggal buat 1 partisi ektended untuk kemudian dibelah menjadi partisi-partisi logical sesuai kebutuhan.
Jika aku ga salah baca penjelasan dari Gparted, aku memiliki 4 partisi dan sebuah unallocated yang ukurannya hanya beberapa MB. Empat partisi itu adalah
Hehe.... keliatan kan maksanya, ga dapat primary menjajah ektended-pun jadi. Well, ampe sini dulu sharing kisah aku dengan Linux in My XPS. Kapan2 aku bakal nulis lagi tingkah aneh aku yang laen bersama Luntu. Itung-itung selain share bisa juga dapat masukan dari Syedara yang jago Linux khususnya distro Ubuntu. Mungkin saja ada Syedara yang bisa ngasih masukan untuk membuat niat aku tadi menjadi nyata hehe....
Aku mulai mencoba mengolah GParted yang aku instal dari Ubuntu Software Center. Hasilnya tidak bisa. Kemudian aku mulai "nanya-nanya" ke si mbah, ga tau ntah kenapa bisa jadi begitu semangat, apa karena penyakit malas aku lagi molor. Ah... udah lah ga da waktu menganalisa hal yang ga penting apalagi menjelaskan dalam posting ini.
Aku jadi mulai agak rajin mencari dan belajar masalah partisi. Ada sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa sebuah HDD maksimal memiliki 4 partisi utama, yaitu Primary, Extended, Logical dan Swap. Jika ingin punya partisi banyak, maka yang perlu dibuat adalah jadikan 2 partisi sebagai primary, sisanya tinggal buat 1 partisi ektended untuk kemudian dibelah menjadi partisi-partisi logical sesuai kebutuhan.
Jika aku ga salah baca penjelasan dari Gparted, aku memiliki 4 partisi dan sebuah unallocated yang ukurannya hanya beberapa MB. Empat partisi itu adalah
- Partisi untuk Utility
- Partisi untuk Recovery (si D)
- Partisi untuk OS-nya(si C)
- Partisi Extended
Kalau kemudian mengacu ke referensi tadi dan mengasumsikan bahwa jika 1, 2 dan 3 adalah partisi primary maka sangat besar kemungkinan bahkan mendekati kepada kepastian aku tidak mungkin melakukan partisi primary alias pintu membuat primary yang ke empat adalah tertutup. Apalagi kemudian aku punya rencana mau buat partisi khusus untuk directory /home.
Satu-satunya hal untuk membuat Luntu bisa memperoleh primary adalah menformat si D. Tapi mencoba terlalu jauh dengan si Vista kurang keberanian, karena dia "tidak terbuka" seperti layaknya keluarga Linux. Jadi, kalo ada masalah yang udah mentok, larinya kalo ga recovery, ya... instal ulang. Lagi pula D adalah partisi untuk keperluan seperti itu. Di tambah lagi Vista juga masih termasuk baru buat aku, walaupun udah setaun lebih bersama. Aku pribadi prefer ke XP. Tapi apa daya default laptop adalah Vista. So, take and enjoy.
Okeh, kembali ke partisi tadi. Akhirnya kepala aku mumet sendiri, karena mikir kira2 bisa ga ya di akali ini hehe... Hasilnya bukannya menemukan jalan yang lurus, malah saraf di kepalaku jadi macem benang kusut. Kekusutan saraf ini yang kemudian membuat aku berpikir "ya sudahlah... walaupun tak dapat primary setidaknya Luntu bisa menguasai seluruh extended" wkwkwk.... agak maksa mungkin.
Beruntungnya si C masih menyediakan ruang kosong yang cukup lega untuk membackup data penting si E yang berada di extended. Walaupun begitu aku masih membutuhkan flash disk 4 GB untuk membantu si C. Hasil akhirnya dapat dilihat pada gambar di bawah
Hehe.... keliatan kan maksanya, ga dapat primary menjajah ektended-pun jadi. Well, ampe sini dulu sharing kisah aku dengan Linux in My XPS. Kapan2 aku bakal nulis lagi tingkah aneh aku yang laen bersama Luntu. Itung-itung selain share bisa juga dapat masukan dari Syedara yang jago Linux khususnya distro Ubuntu. Mungkin saja ada Syedara yang bisa ngasih masukan untuk membuat niat aku tadi menjadi nyata hehe....

4 komentar:
saya malu sama jawabannya... :-)
hmm pengalaman anda dalam sekali, saya jadi dapat pencerahan dari anda..
Pak Andy MSE memang seorang master Linux yang selalu menjadi panutan saya. Bahkan saya belajar banyak dari beliau. Berkat beliau, saya bisa menyelesaikan beberapa masalah Linux dan hingga saat ini saya menjadi pengguna Linux, khususnya Linux Mint dan Ubuntu.
Saya salut dengan keinginan anda untuk belajar Linux. Bahkan selalu berusaha mencari tahu jawaban tentang permasalahan yang anda hadapi. Tentu saja ini menginspirasi saya untuk tetap berusaha dalam memperdalam ilmu tentang Linux. Salam kenal dari pengguna Linux yang masih pemula.
@Andy : Terima kasih Pak, udah mau mampir. Jawaban2nya memang sangat membantu..
@Renggana : Wah,,, ga nyangka kalo pengalaman aku ini bisa menjadi inspirasi. Terima kasih.
@Jimbun : Salam kenal kembali...
Post a Comment