Duduk di warkop depan Elizabeth di salah satu malam ternyata ingatin awak kembali tentang dunia pendidikan negeri ini yang semakin memprihatinkan. Cerita diawali oleh seorang saudara dari kawan awak tentang prilaku anak sekolah sekarang yang udah mulai "berani" alias lantam (klo bahasa awak) dengan sosok yang telah membuat berjuta-juta orang menjadi seseorang. Udah ga usah disebut lah itu, klo kata lirik sebuah lagu nasional mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa .
Dunia pendidikan merupakan tempat semua dimulai, karena ga ada orang yang nongol ke dunia ini trus ga pernah ngelewatin dunia ini. Setiap orang pasti pernah di didik, tak peduli oleh siapa atau apa. Pastinya kita hari ini, apapun itu, adalah sebuah pribadi yang terbentuk setelah melewati proses pendidikan.
Bicara pendidikan pasti bicara tentang tiga hal yaitu pendidik, yang dididik dan sistem didikan. Dari tahun ke tahun setiap umat manusia pasti pernah menjadi salah satu bagian dari ketiga hal itu. Bukan hanya manusia yang dinamis, tetapi pendidikan itu sendiri pun menjadi dinamis. Perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntuk pendidik dan yang dididik untuk lebih cepat dalam memahami ilmu pengetahuan. Hal ini kemudian menuntut pula sistem didikan yang harus berubah dari zaman ke zaman.
Sebut saja contoh sederhana yang dulu pas awak sekolah . Dulu klo buku yang dibeli cukup sekali trus diwariskan dan sekarang buku dibeli untuk satu generasi dan generasi berikutnya berganti isi. Kemudian kasus lain dulu para pengajar bisa dengan full time share pengetahuannya dengan sistem "dikte". Sekarang ketika TV, koran, internet dan media informasi lain begitu mudah diakses. Proses dikte menjadi terbentur, karena yang diajari udah mengetahui hal itu dari luar meskipun terkadang dalam pemahaman yang salah. Efek ini terkadang membuat murid merasa lantam untuk mengatakan "si guru ga up to date". Ga bilang laen, awak terkadang juga pernah begitu (sekarang mencoba bertobat... hehehehe....) Dan ketika efek itu nongol, sering membuat si murid males untuk dengerin cakap si guru selanjutnya.
Pengakuan gelar sekarang (setidaknya di Indonesia) menjadi semakin diragukan. Telinga awak pernah membuktikan ketika menghadiri salah satu wisuda saudara. Ada orang yang nyeletuk "Kembali bertambah pengangguran di negeri ini". Tentu hal ini berbeda pada zaman dulu, ketika seseorang memperoleh gelar sarjana, satu kampung mungkin ikut bangga dengan warganya.
Itu mungkin beberapa tingkah dunia pendidikan Indonesia, blum lagi kasus kekerasan guru kepada murid, murid kepada guru atau murid dengan murid. Lingkungan keluarga dan pergaulan, pengaruh media informasi dan efek lainnya membuat pendidikan negeri ini menjadi semakin memprihatinkan.
Berbagai macam solusi telah muncul ke permukaan oleh para pakar. Sebut saja seperti home schooling untuk ngatasin menjamurnya efek kekerasan di lembaga pendidikan. Satu sisi positif buat si anak bisa ga terbentur dengan kekerasan, tapi menurut awak sisi negatif boleh jadi ego si anak bakal terlalu tinggi. Kemudian metode kompetensi yang cukup menarik, tetapi bakal jadi pilih kasih ketika pemerintah tidak memberikan dukungan yang full. Kompetensi berarti bersaing. Pemenangnya adalah orang yang siap mental, fisik dan otak. Lalu melihat kondisi sekolah yang tak semua sama baik dari segi fisik sekolah, fasilitas, dukungan pengajar dan bahan ajar. Ditambah lagi UN yang mengikuti standar nasional, meskipun blum semua sekolah negeri layak untuk disebut memenuhi standar nasional.
Mungkin yang membaca sampe di sini, merasa awak ini terlalu banyak protes. Tapi itu yang awak rasakan. Apalagi melihat kondisi perkuliahan sampai muncul kata-kata mutiara "Klo sekolah mesti pintar, klo kuliah mesti pintar-pintar". Ini juga mungkin yang membuat banyak orang berpikir beberapa kali untuk masuk dalam bangku kuliah. Mereka lebih memilih masuk kedalam kursus atau lembaga pendidikan singkat. Toh ujungnya juga nyari kerja, ngapaen kuliah lama2 trus gelar juga diragukan. Mending belajar singkat, bisa langsung kerja.
Jika terus seperti ini, maka lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan PT semakin lama semakin kehilangan kewibaannya dan mungkin suatu saat bakal gulung tikar di negeri ini. Jelimet memang, tapi banyak negara maju telah membuktikan jika pendidikan menjadi dasar pembangunan. Maka proses kemandirian bangsa akan lebih mudah tercapai.
Awak juga masih bingung untuk mengatakan dari mana akar permasalahan ini harus ditelusuri dan kemudian diluruskan semua kebengkokan. Awak berharap hal ini bisa segera terselesaikan secepat mungkin. Sangat memuakkan rasanya melihat negeri yang kaya SDA tetapi carut marut dalam membangun SDM sebagai pengelolanya. Sampai-sampai harus rela menggaji besar para pekerja luar, padahal penduduknya tidak termasuk sedikit.
Bicara pendidikan pasti bicara tentang tiga hal yaitu pendidik, yang dididik dan sistem didikan. Dari tahun ke tahun setiap umat manusia pasti pernah menjadi salah satu bagian dari ketiga hal itu. Bukan hanya manusia yang dinamis, tetapi pendidikan itu sendiri pun menjadi dinamis. Perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntuk pendidik dan yang dididik untuk lebih cepat dalam memahami ilmu pengetahuan. Hal ini kemudian menuntut pula sistem didikan yang harus berubah dari zaman ke zaman.
Sebut saja contoh sederhana yang dulu pas awak sekolah . Dulu klo buku yang dibeli cukup sekali trus diwariskan dan sekarang buku dibeli untuk satu generasi dan generasi berikutnya berganti isi. Kemudian kasus lain dulu para pengajar bisa dengan full time share pengetahuannya dengan sistem "dikte". Sekarang ketika TV, koran, internet dan media informasi lain begitu mudah diakses. Proses dikte menjadi terbentur, karena yang diajari udah mengetahui hal itu dari luar meskipun terkadang dalam pemahaman yang salah. Efek ini terkadang membuat murid merasa lantam untuk mengatakan "si guru ga up to date". Ga bilang laen, awak terkadang juga pernah begitu (sekarang mencoba bertobat... hehehehe....) Dan ketika efek itu nongol, sering membuat si murid males untuk dengerin cakap si guru selanjutnya.
Pengakuan gelar sekarang (setidaknya di Indonesia) menjadi semakin diragukan. Telinga awak pernah membuktikan ketika menghadiri salah satu wisuda saudara. Ada orang yang nyeletuk "Kembali bertambah pengangguran di negeri ini". Tentu hal ini berbeda pada zaman dulu, ketika seseorang memperoleh gelar sarjana, satu kampung mungkin ikut bangga dengan warganya.
Itu mungkin beberapa tingkah dunia pendidikan Indonesia, blum lagi kasus kekerasan guru kepada murid, murid kepada guru atau murid dengan murid. Lingkungan keluarga dan pergaulan, pengaruh media informasi dan efek lainnya membuat pendidikan negeri ini menjadi semakin memprihatinkan.
Berbagai macam solusi telah muncul ke permukaan oleh para pakar. Sebut saja seperti home schooling untuk ngatasin menjamurnya efek kekerasan di lembaga pendidikan. Satu sisi positif buat si anak bisa ga terbentur dengan kekerasan, tapi menurut awak sisi negatif boleh jadi ego si anak bakal terlalu tinggi. Kemudian metode kompetensi yang cukup menarik, tetapi bakal jadi pilih kasih ketika pemerintah tidak memberikan dukungan yang full. Kompetensi berarti bersaing. Pemenangnya adalah orang yang siap mental, fisik dan otak. Lalu melihat kondisi sekolah yang tak semua sama baik dari segi fisik sekolah, fasilitas, dukungan pengajar dan bahan ajar. Ditambah lagi UN yang mengikuti standar nasional, meskipun blum semua sekolah negeri layak untuk disebut memenuhi standar nasional.
Mungkin yang membaca sampe di sini, merasa awak ini terlalu banyak protes. Tapi itu yang awak rasakan. Apalagi melihat kondisi perkuliahan sampai muncul kata-kata mutiara "Klo sekolah mesti pintar, klo kuliah mesti pintar-pintar". Ini juga mungkin yang membuat banyak orang berpikir beberapa kali untuk masuk dalam bangku kuliah. Mereka lebih memilih masuk kedalam kursus atau lembaga pendidikan singkat. Toh ujungnya juga nyari kerja, ngapaen kuliah lama2 trus gelar juga diragukan. Mending belajar singkat, bisa langsung kerja.
Jika terus seperti ini, maka lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan PT semakin lama semakin kehilangan kewibaannya dan mungkin suatu saat bakal gulung tikar di negeri ini. Jelimet memang, tapi banyak negara maju telah membuktikan jika pendidikan menjadi dasar pembangunan. Maka proses kemandirian bangsa akan lebih mudah tercapai.
Awak juga masih bingung untuk mengatakan dari mana akar permasalahan ini harus ditelusuri dan kemudian diluruskan semua kebengkokan. Awak berharap hal ini bisa segera terselesaikan secepat mungkin. Sangat memuakkan rasanya melihat negeri yang kaya SDA tetapi carut marut dalam membangun SDM sebagai pengelolanya. Sampai-sampai harus rela menggaji besar para pekerja luar, padahal penduduknya tidak termasuk sedikit.
1 komentar:
Ya, begitulah cerita pendidikan di Indonesia. Benang merah yang harus ditarik agar permasalahan ini selesai kian runyam dan kusut. Sulit menemukan kembali ruh pendidikan Indonesia ketika Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Seorang bapak bangsa yang hanya lulusan sekolah dasar ini mampu melakukan gebrakan. Bayangkan!! hanya lulusan sekolah dasar!!
Post a Comment