Pages

Saturday, November 03, 2012

Sebuah Kutipan (2)

Ini kata-kata yang saya kutip dari sebuah poster yang terpasang di ruang kerja. Berdasarkan penuturan orang yang buat, kata-kata ini di copas dari suatu sumber (dia pun juga ga ingat lagi copas dari mana) dan setelah dicek sama "si mbah", udah banyak situs yang nulis kata-kata ini dan saya belum menemukan dari mana kata-kata ini berasal. Nikmati dan resapi sajalah, semoga bermanfaat


Ketika kerjamu ... tidak dihargai
maka saat itu ... kau sedang belajar tentang 
KETULUSAN

Ketika usahamu dinilai ... tidak penting
maka saat itu ... kau sedang belajar tentang 
KEIKHLASAN

Ketika hatimu ... terluka sangat dalam
maka saat itu ... kau sedang belajar tentang
MEMAAFKAN

Ketika kau harus ... lelah kecewa
maka saat itu ... kau sedang belajar tentang
KESUNGGUHAN

Ketika kau merasa ... sepi sendiri
maka saat itu ... kau sedang belajar tentang
KETANGGUHAN

Ketika kau harus ... membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung
maka saat itu ... kau sedang belajar tentang
KEMURAH-HATIAN

Tetap semangat ... Tetap sabar ... Tetap tersenyum ... Terus belajar ...

Karena kau sedang menimbang ilmu di ... KEHIDUPAN

Engkau berada di tempatmu yang sekarang, bukan karena KEBETULAN

Orang yang hebat, tidak dihasilkan melalui ...
... kemudahan
... kesenangan
... ketenangan

Mereka dibentuk melalui
... kesukaran
... tantangan dan 
... air mata

Ketika engkau mengalami sesuatu yang sangat berat
dan merasa ditinggalkan sendiri dalam hidup ini ...
Angkatlah Tangan dan Kepalamu ke atas ... Tataplah masa depanmu ...

Ketahuilah ... Engkau sedang dipersiapkan untuk menjadi ...
Orang yang Luar Biasa ...

Monday, October 17, 2011

Kentut dan Jakarta Maghrib

Bulan ini bisa dibilang bulan yang agak padat, berhubung ada beberapa target yang harus diselesaikan termasuk beberapa antrian isolator yang perlu di "bersihkan" hehe.... Kebetulan sabtu dan minggu kemarin aku tidak dapat tugas jalan-jalan, jadi tidak ada salahnya sedikit santai dengan menikmati sejumlah film. Berhubung database film dari kawan udah abis, saya tancap gas ke rental langganan. Hari pertama aku nyewa 4 film dan dihari kedua aku nyewa 4 lagi, sukses dah aku babat 8 film 2 hari. Pas postingan ini aku tulis aku baru aja selesai nonton film terakhir judulnya Nothing But The Truth. Lumayanlah, buat nyegarkan kepala berhubung malam selasa aku harus jalan-jalan lagi.

Diantara kedelapan film yang aku sewa, ada 2 film indonesia yang menarik yaitu Kentut dan Jakarta Maghrib. Film yang pertama aku sewa karena ada aktor Deddy Mizwar dan yang kedua karena rekomendasi kawan. Okeh, untuk film pertama seperti yang sudah aku bayangkan filmnya bakal menghadirkan komedi dan juga sindiran-sindiran buat realita negeri ini. O ya, satu lagi iklan hehehe... Sori bang Jek, dari beberapa film yang saya nonton dimana abang main disitu iklannya kadang-kadang berlebihan seperti KCB 1, Alangkah Lucunya Negeri Ini dan yang terakhir Kentut.

Aku kembali lagi ke filmnya. Dalam imajinasiku karya Deddy Mizwar adalah karya yang sederhana dan yang paling aku suka itu sebenarnya film seri lorong waktu sama kiamat sudah dekat versi film lepas. Untuk Para Pencari Tuhan kelihatannya juga sodap bang, cuma berhubung sahur di ujung barat sumatera agak lama jadi cuma kebagian akhirnya hehe.... Kesan sederhana dalam artian bahwa tema yang diangkat tidak terlalu berat namun bisa menyentil sisi kehidupan manusia masih tetap aku rasain setidaknya sampai Alangkah Lucunya Negeri Ini. Namun, untuk film terakhir aku merasa agak kurang. Secara ide menarik bahwa kentut yang mungkin dianggap hal sepele bisa membuyarkan rencana calon pemimpin sekalipun. Mungkin sebuah kiasan bahwa rencana manusia-manusia pintar yang berpengalaman sekalipun bisa bablas karena sesuatu yang sangat sepele.

Namun kesan ini menjadi kurang bisa aku tangkap dengan begitu baik lewat alur film ini, entah karena dari sisi pengemasan atau aku yang kurang berkonsentrasi hehe.. Setidaknya itulah yang dirasakan ketika menikmati film ini sampai habis.

Sekarang masuk ke film kedua, Jakarta Maghrib. Aku ngikutin bahas ini film selain karena rekomendasi kawan, film ini juga terkadang nyindir awak hahahaha... Ini film memang dikemas dalam 5 cerita yang terpisah. Yang aku tangkap film ini menghadirkan beberapa bentuk kehidupan kota Jakarta di sebuah waktu, dalam hal ini ketika menjelang Maghrib. Menarik, seperti cerita adzan yang menggambarkan salah satu fenomena religi pada sebuah kota besar. Lalu cerita tentang hubungan bermasyarakat di sebuah komplek yang ternyata super cuek. Kemudian sentilan bahwa kebanyakan kita cuma berani menyampaikan ketidaksukaan terhadap sesuatu tapi sayang jarang untuk berani bersikap. Atau mungkin cerita anak muda yang salah kaprah menyikapi hal ghaib dan sentilan-sentilan lain. Memang mungkin tidak terlalu tajam, tapi juga tidak terlalu tumpul. Namun buat aku pas.

Cuma sayang, endingnya yang agak kurang puas. Terutama nasib sang preman yang Azan. Apa kena amukan massa atau kemudian massa harus sadar jika preman hanya melanjutkan hobi si Babe untuk ngingatin orang-orang sudah saatnya "ngobrol" sama Sang Khalik.


Powered by ScribeFire.

Saturday, June 11, 2011

#indonesiajujur: Mau Jujur Kok Bingung?

Suatu ketika Rasulullah saw melihat seorang laki-laki berlari dari kejaran sekelompok orang jahat yang hendak menganiaya dirinya. Karena suatu hal laki-laki tersebut berhasil menghilang dari pandang orang yang mengejarnya. Para pengejar yang telah mulai kehilangan jejak kemudian bertanya kepada orang di sekitar apakah ada yang melihat laki-laki tersebut dan jawabannya adala negatif. Rasul yang melihat kejadian tersebut kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ketika para pengejar menuju Rasul dan bertanya tentang laki-laki itu, Rasul pun menjawab "SEMENJAK saya BERDIRI disini TIDAK ada satu orang laki-lakipun yang melintasi jalan ini".

Kelihatannya cerita itu menyentak awak untuk menyangkal kalimat "BOHONG untuk KEBAIKAN itu TIDAK APA-APA". Padahal yang ingin diselamatkan adalah nyawa seorang anak manusia yang tidak bersalah dari sekerumunan orang jahat yang ingin menyakitinya. Padahal apa lah artinya menipu orang jahat. Namun, itu lah konsekuensi dari mempertahankan sebuah nilai kejujuran. Bahwa akhlak baik tidak harus selamanya diberikan kepada orang baik.

Bicara tentang nilai baik seperti kejujuran menjadi sesuatu hal yang agak ribet untuk saat ini. Berhubung manusia tidak jarang terjebak dengan suatu kondisi yang membuatnya harus menyembunyikan sesuatu. Hasilnya tidak jarang pula manusia kekurangan kemampuan untuk merepresentikan kerahasiaanya tetap dalam konteks nilai kejujuran. Potong kompas (baca: berbohong) keliatannya lebih mudah dengan dalih demi kebaikan bersama. Lalu, apa parameter untuk menyatakan bahwa tindakan potong kompas itu adalah benar. Menurut kacamata penyampai boleh jadi, tapi kacamata lain bagaimana? Lalu bagaimana dengan dampaknya? Bagaimana dengan konsistensi mempertahankan nilai kejujuran yang selalu disampaikan orang tua kepada anaknya?

Aku jadi teringat dulu pas nonton salah satu acara TV, seorang seniman (aku lupa namanya) pernah ngomong begini "Dulu sewaktu kecil seorang anak diberitahu lebih baik mencegah dari pada mengobati. Namun, ketika dewasa orang lebih senang mengobati dari pada mencegah". Apapun cerita sebuah nilai yang baik harus tetap dipertahankan. Tantangan memang selalu saja ada kepada siapapun yang mencoba untuk mempertahankan hal itu. 

Bicara mengenai gerakan #indonesiajujur keliatannya merupakan sebuah gerakan yang perlu didukung. Mungkin kasus Ny. Siami dapat menjadi triger tertentu bahwa rasa kejujuran harus tetap dipertahankan, dan perasaan bersalah harus tetap dibudayakan. Agar semua orang tidak merasa begitu gampangnya membenarkan kesalahan hanya karena terjebak dengan kondisi yang tidak menyenangkan buat dirinya atau buat orang-orang yang disayanginya.

Ini bukan hanya pertanyaan buat pemerintah atau sekelompok orang yang disebut besar oleh wong cilik. Ini juga pertanyaan buat kita bersama sebagai seorang manusia dan sebagai sebuah bangsa. Bahwa dimana-mana itu nilai baik tidak selamanya dimulai dari seorang pemimpin, tapi itu dimulai dari diri setiap insan. Lagipula bukankah manusia adalah khalifah (baca: pemimpin) dan setiap pemimpin akan ditanyakan kepemimpinannya baik di dunia maupun di akhirat oleh Sang Penggengam Kehidupan.

Disqus for Saleum Syedara